DECEMBER 9, 2022
Lifestyle

Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA

Lukisan *Paus ke Indonesia #2* menggambarkan Paus sedang merengkuh seorang anak dengan khusyuk. Sementara di sekitar bocah itu berdiri anak-anak lain yang menampakkan wajah riang. Sebagian anak itu mengatupkan tangannya dalam gestur berdoa dan berharap. 

Di sekeliling anak-anak tampak orang tua mereka yang semuanya tersenyum bahagia. Di belakang kerumunan, aha, terlihat masjid megah yang siap mengumandangkan adzan. 

Selembar lukisan yang menegaskan betapa kebersamaan dalam perbedaan itu sungguh menyenangkan dan selalu memberikan harapan-harapan mulia.

Baca Juga: Denny JA Mengungkap 3 Fakta Tercecer Sejarah Bangsa 

Lukisan *Paus ke Indonesia #3* mempresentasikan kunjungan para ulama serta umat berbagai agama ke tempat Paus ketika berada di Indonesia. Di halaman bangunan gereja berbendera merah-putih itu, Paus menghaturkan sikap hormat kepada mereka yang bertandang. Kebahagiaan tampak berkelindan.

Semua lukisan ini mengesankan Paus yang sedang berbagi harapan kepada banyak orang. Denny tentu tidak menggambarkan realitas yang terjadi atas kedatangan Paus ke Indonesia. Karena ketika ia melukis itu, Paus belum berkunjung. Dan bahkan dalam kunjungan yang akan dilakukan Paus, tidak terjadwalkan program ke pesantren. 

Di sini, Denny hanya ingin menggambarkan - tepatnya memaknai - bahwa kunjungan Paus ke Indonesia adalah untuk berbagi harapan-harapan baik. 

Baca Juga: ORASI DENNY JA: Kisah Cinta Tanah Air di Dalam Film Eksil

Persis ketika para ulama Islam yang bermuhibah ke sudut-sudut dunia dengan memancarkan harapan-harapan yang mulia. Persis ketika para biksu berjalan ke banyak penjuru untuk meneguhkan harapan atas semesta.

Dalam lukisan Denny, Paus dimaknai sebagai perlambang dari wakil Allah yang selalu memberi pengharapan. Dan makna itu selaras dengan yang difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an: “Berharaplah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan harapanmu sekalian” (QS. Al-Mu'min : 60). “Dan Allah SWT akan mengabulkan harapan bagi siapa saja yang berharap hanya kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah : 186).

Sementara dalam Al-Insyirah Ayat 5 - 6 tertulis cerita bahwa Rasulullah Muhammad SAW pun sama seperti manusia lain, pernah merasakan keresahan hati. Allah SWT kemudian menurunkan Al-Insyirah sebagai penghiburan dan sekaligus pengharapan: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya setelah kesusahan itu ada kebahagiaan”.

Baca Juga: ORASI DENNY JA: Dibatalkannya RUU Pilkada dan Pentingnya Kompetisi Politik

Sedangkan dalam Alkitab, persoalan pengharapan itu ada dalam Amsal 17:22. Bahkan Kitab Amsal tidak hanya berbicara tentang pengharapan, tetapi juga kebahagiaan lewat ungkapan. Ayat itu berbunyi begini: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Halaman:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Sumber: Rilis

Berita Terkait