Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA
- Penulis : Maulana
- Minggu, 25 Agustus 2024 21:38 WIB

Imajinasi Faktual dalam Lukisan Denny JA

2

3

4
Saya tahu Denny adalah seorang Muslim yang khusyuk mendalami seluk-beluk agama dan filsafat Islam. Namun, mengapa ia tergugah benar dengan kunjungan Paus Fransiskus, yang notabene “presiden” dari umat Katolik? Ia tidak ingin menjawab itu dengan seksama. Namun jalan pikirannya bisa diduga.
Ia akan berkata bahwa kontekstualisme dalam ilmu sosial tidak pernah meminggirkan setitik pun fakta yang menggugah. Apalagi kunjungan Paus Fransiskus akan sangat berkonteks dengan konten utama aktivitasnya: keberagaman.
Yang unik, “tausiah” Denny kali ini tidak disampaikan lewat tuturan atau tulisan, yang biasanya berbentuk artikel atau puisi-esai, namun lewat lukisan.
Baca Juga: Denny JA Mengungkap 3 Fakta Tercecer Sejarah Bangsa
Yang lebih unik lagi, lukisan yang disajikan tidak dalam rupa yang digubah dengan teknik konvensional, namun yang digubah dengan teknologi AI atau Akal Imitasi atau Artificial Intelligence.
Di sini, lagi-lagi Denny menegaskan kontekstualitasnya. Bukankah pada era sekarang sarana visual lebih diperhatikan ketimbang huruf-huruf dan tutur perkataan?
Bukankah pada era sekarang dunia visual juga sudah dijamah dan digubah oleh teknologi yang sanggup merekayasa bentuk? Maka Denny pun berkata lugas berdasarkan konteks: Kini, katakan semuanya dengan lukisan.
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Kisah Cinta Tanah Air di Dalam Film Eksil
**Memaknai kunjungan Paus Fransiskus**
Dalam visualisasi yang indah, Denny menghadirkan seri imajinasi lukisan kunjungan Paus ke Indonesia pada 3 - 6 September 2024 ini.
Pada lukisan *Paus ke Indonesia #1* ia menggambarkan dua wanita berkerudung sedang bersimpuh (bukan menyembah) di hadapan Paus. Paus menyambut mereka dengan teduh sambil memberi salam hormat.
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Dibatalkannya RUU Pilkada dan Pentingnya Kompetisi Politik
Di depan dua wanita itu terlihat seorang kakek yang duduk di kursi roda. Kita simak, kursi roda tersebut didorong oleh seorang nenek tua. Di sekitar mereka berdiri banyak orang yang semua bersukacita. Dari setting yang tergambar, bisa diduga mereka berada di halaman kompleks pesantren.