Catatan Denny JA: Hukum Kedua Hidup Bermakna, Positivity
- Penulis : Maulana
- Sabtu, 19 Oktober 2024 10:26 WIB

Ini bukanlah bentuk pelarian; ini adalah kekuatan untuk bertahan dan berkembang.
-000-
Positivity dalam Ajaran Agama dan Filsafat
Baca Juga: Catatan Denny JA: Wahai Para Esoteris, Berkumpulah
Positivity bukanlah konsep baru. Ia telah ada selama ribuan tahun dalam berbagai ajaran spiritual dan filsafat di seluruh dunia.
Dalam Islam, husnuzon (berprasangka baik) mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik kepada Tuhan dan sesama manusia. Meski cobaan datang, umat Muslim diajarkan untuk percaya bahwa setiap kesulitan memiliki hikmah tersendiri.
Dalam agama Kristen, positivity tercermin dalam ajaran kasih dan pengampunan. Yesus Kristus mengajarkan kita untuk mencintai bahkan musuh kita.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Hukum Pertama Hidup Bermakna, Hubungan Personal
Sikap ini adalah puncak positivity—pengampunan adalah kebesaran jiwa yang hanya mungkin dicapai melalui pandangan positif yang mendalam terhadap manusia dan kemanusiaan.
Buddhisme mengajarkan metta atau cinta kasih tanpa syarat, di mana kita memelihara pikiran positif terhadap semua makhluk.
Positivity dalam Buddhisme bukan sekadar perasaan baik, tetapi merupakan latihan harian dalam memberikan cinta kasih dan kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain, melampaui ego dan batas diri.
Dalam ajaran Hindu, konsep santosh (kepuasan batin) mengajarkan positivity dalam bentuk penerimaan—bukan pasrah, tetapi penerimaan yang aktif dan sadar akan apa yang terjadi, sambil terus berusaha menuju kebaikan yang lebih besar.