Inspirasi Politik dari Mata Air Bung Karno dan Sjahrir: Pengantar dari Denny JA untuk Buku Puisi Esai Isti Nugroho
- Penulis : Maulana
- Kamis, 04 Juli 2024 09:29 WIB

Tiga belas tahun sejak Isti Nugroho mendramatisasi puisi esai, juga setelah ia menyajikan puisi esai di luar negeri, ia memutuskan menuliskan perjalanan intelektual dan sikap politiknya dalam 48 puisi esai.
Tulis Isti Nugroho di buku itu: “Puisi esai bagi saya adalah karya seni yang menyatakan sikap atas keadaan. Bukan klandestin atau hiburan, ada baiknya tingkah konyol para badut di panggung politik.”
“Penyair bukan penghibur tetapi sosok yang memberikan pencerahan bagi banyak orang. Dan saya sangat percaya bahkan meyakini hal itu.”
Baca Juga: Golkar Sebut Hasil Survei LSI Denny JA Jadi Rujukan di Pilkada NTB 2024
Lanjut Isti, “Untuk itu, antologi puisi esai, saya persembahkan kepada penjaga khalayak, pembela, dan penguat demokrasi.”
-000-
Komunitas puisi esai setiap tahun kini memiliki dua festival. Festival Puisi Esai tingkat ASEAN sekitar bulan Juni, dan Festival Puisi Esai Nasional di bulan Desember.
Puisi esai dalam buku Isti Nugroho ini segera ia siapkan untuk ditampilkan sebagai durasi teater mini.
Sebagai aktivis politik yang kawakan, wajar saja elemen dan aura politiknya akan mewarnai karya seninya. Tetapi justru di situlah letak nilainya. Ekspresi politik ia sampaikan melalui puisi esai dan teater puisi esai. ***
4 Juli 2024
Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions
Catatan: