Inspirasi Politik dari Mata Air Bung Karno dan Sjahrir: Pengantar dari Denny JA untuk Buku Puisi Esai Isti Nugroho
- Penulis : Maulana
- Kamis, 04 Juli 2024 09:29 WIB

Bung Karno dan Bung Sjahrir yang akhirnya berbeda dan berhadapan frontal secara politik bersatu kembali dalam Puisi esai Isti Nugroho.
Isti sebagai aktivis melakukan sinkretisme sejenis. Dari Bung Karno, ia mengambil komitmen pada kaum marhaen, wong kecil yang perlu memperoleh kemandirian ekonomi.
Dari Bung Sjahrir, Isti mengambil komitmen terhadap demokrasi, hak asasi, dan pengaturan negara dengan manajemen modern.
Baca Juga: Golkar Sebut Hasil Survei LSI Denny JA Jadi Rujukan di Pilkada NTB 2024
Dalam puisinya, Isti menggambarkan dirinya sedang mandi dan bermain di dua sungai. Yang satu sungai yang dijaga Pak Marhaen (Bung Karno). Satu lagi sungai yang dijaga Pak Sosialis (Bung Sjahrir).
Puisi esai berjudul “Berkisar di antara Soekarno dan Sjahrir” hanyalah satu dari 48 puisi esai lainnya.
Sebagaimana yang menjadi standar puisi esai, 48 Puisi esai yang ia tulis adalah kisah faktual yang diperkaya dengan fiksi. Puisi itu diwujudkan dalam bahasa yang mudah tapi puitis.
Dalam keseluruhan 48 puisi esai itu, masing-masing hadir pula catatan kaki sebagai wakil dari kisah nyata yang menjadi ibu kandung puisi.
Untuk gerakan puisi esai selaku genre baru sastra Indonesia, Isti Nugroho termasuk generasi pertama. Genre puisi esai ini lahir di tahun 2012 membawa buku saya berjudul Atas Nama Cinta.
Pada tahun 2013, setahun kemudian, Isti Nugroho bersama Indra Trenggono telah mengubah satu puisi esai di buku itu, Sapu Tangan Fang Yin, menjadi teater. Di Yogyakarta, drama itu dipentaskan.
Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions
Tahun 2024, Isti Nugroho diundang ke Malaysia, untuk menceritakan pengalamannya melakukan teaterisasi puisi esai. Pihak pengundang adalah panitia Festival Puisi Esai ASEAN ke-3.