Denny JA Terbitkan Buku Puisi Esai ke- 6: Yang Tercecer di Era Kemerdekaan
- Penulis : Maulana
- Senin, 24 Juni 2024 13:01 WIB

COSMOABC.COM - Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Denny JA, telah menerbitkan buku puisi esai terbarunya edisi ke-6. Buku yang ditulis oleh penerima penghargaan sastra luar dan dalam negeri itu berjudul “Yang Tercecer di Era Kemerdekaan,” (Juni 2024).
“Sejarah akan lebih mudah diingat dan menyentuh hati jika ia disampaikan melalui kisah-kisah. Maka yang akan muncul di sana tidak hanya data mengenai tokoh, tempat, dan peristiwa, tapi juga drama, gejolak-gejolak emosi,” ungkap Denny JA.
“Oleh karena itu, saya memilih menggali sejarah di era kemerdekaan dan menyampaikannya dalam bentuk puisi esai.”
Baca Juga: Ketua Umum SATUPENA Denny JA Terima Anugerah Literasi Budaya IMLF 2024
“Ini cara bertutur yang menggabungkan fakta yang terjadi dalam sejarah, tapi ditambahkan fiksi, dibuatkan drama tambahan. Ramuan itu membuat kisah sejarah atau kisah nyata lebih menyentuh hati dan lebih mudah diingat.”
Demikian disampaikan Denny JA, membawakan buku puisi esainya yang keenam: Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (Juni, 2024). Buku tersebut dapat dibaca siapa pun dengan mengklik Link ini.
Denny menggali kisah-kisah di balik peristiwa kemerdekaan tahun 1945, lebih ke sisi kegelapannya. Mulai dari kisah puluhan ribu gadis pribumi yang dipaksa untuk menjadi perempuan penghibur bagi tentara Jepang.
Baca Juga: Potensi Ledakan dari Pameran Lukisan AI Denny JA
Juga ada kisah mengenai Romusha, yaitu para pemuda Indonesia umumnya, yang dibujuk untuk menjadi tenaga yang bekerja secara paksa, yang nyaris sama seperti budak.
Mereka begitu miskin karena kurangnya fasilitas yang diberikan. Banyak dari mereka yang kemudian mati secara merana.
Juga kisah mengenai para gadis pribumi yang menjadi pembantu rumah tangga, sekaligus juga menjadi gundik atau istri yang tak dinikahi bagi tuan-tuan Belanda.
Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions
Denny JA sendiri menyelami dilema moral yang dihadapi Bung Karno saat itu sebagai seorang pemimpin di era kemerdekaan.