DECEMBER 9, 2022
Politic

Inspirasi Politik dari Mata Air Bung Karno dan Sjahrir: Pengantar dari Denny JA untuk Buku Puisi Esai Isti Nugroho

image
Inspirasi Politik dari Mata Air Bung Karno dan Sjahrir: Pengantar dari Denny JA untuk Buku Puisi Esai Isti Nugroho (Foto: Kiriman)

Dari sahabat menjadi lawan politik, mereka menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya melawan penjajah, tetapi juga tentang bagaimana membangun masa depan yang adil dan sejahtera bagi bangsa.

Di tengah perbedaan yang tajam, mereka tetap menjadi bagian dari sejarah yang mengukir jalan menuju Indonesia merdeka.

-000-

Baca Juga: Golkar Sebut Hasil Survei LSI Denny JA Jadi Rujukan di Pilkada NTB 2024

Bung Karno memandang nasionalisme sebagai kekuatan pendorong utama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saya percaya bahwa rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap identitas nasional merupakan fondasi yang kuat untuk menggerakkan rakyat melawan penjajahan.

Dalam arti sempit, nasionalisme bukan hanya tentang kebebasan dari penjajah, tetapi juga tentang membangun identitas kolektif yang kuat di antara berbagai suku, agama, dan budaya di Indonesia.

Pada tahun 1945, Soekarno memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Ini merupakan manifestasi dari visi nasionalisme Soekarno.

Baca Juga: LSI Denny JA Catat 97 Persen Unggahan soal Pemberian Izin Pertambangan ke Ormas Keagamaan di Media Bernada Netral

Pancasila dirancang untuk mengakomodasi keragaman Indonesia dan menjadi pedoman bagi pembangunan bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Konsep Marhaenisme juga menjadi bagian integral dari nasionalisme Soekarno. Marhaenisme adalah ideologi yang berfokus pada penyebaran rakyat kecil (Marhaen) dari kekacauan ekonomi dan sosial.

Soekarno bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen yang memiliki alat produksi sendiri namun tetap hidup dalam kemiskinan. Dari sini, Soekarno menyimpulkan bahwa sistem ekonomi yang eksploitatif harus diubah untuk menciptakan keadilan sosial.

Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions

Soekarno mencoba menggabungkan tiga kekuatan besar di Indonesia—Nasionalisme, Agama, dan Komunisme—ke dalam satu konsep yang disebut Nasakom.

Halaman:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Sumber: Kiriman Denny JA

Berita Terkait