Inspirasi Politik dari Mata Air Bung Karno dan Sjahrir: Pengantar dari Denny JA untuk Buku Puisi Esai Isti Nugroho
- Penulis : Maulana
- Kamis, 04 Juli 2024 09:29 WIB

Isti juga mengungkapkan hal yang sama terjadi pada Sutan Sjahrir:
“Tanpa sadar, Pak Sosialis menghilang. Meninggalkan jejak dalam tabung ingatan.”
-000-
Baca Juga: Golkar Sebut Hasil Survei LSI Denny JA Jadi Rujukan di Pilkada NTB 2024
Sangatlah bagus jika Isti Nugroho mendapat inspirasi dari dua tokoh yang pilihan politiknya justru sering berseberangan.
Memang mereka awalnya ramah dan satu kubu. Namun perjalanan waktu memisahkan mereka. Bung Karno bahkan akhirnya memenjarakan Bung Sjahrir.
Di bawah bayang-bayang penjajahan Belanda, Bung Karno dan Bung Sjahrir awalnya berdiri sebagai dua sahabat yang berbagi mimpi besar. Mereka adalah dua bintang di langit perjuangan, perayaan jalan menuju kemerdekaan.
Soekarno, dengan kharismanya yang memukau, menggerakkan massa melalui pidato-pidato pembara. Sjahrir, dengan kecerdasan dan tulisannya yang tajam, memberikan arah dan strategis. Bersama-sama, mereka menanam benih harapan di tanah air yang subur.
Namun, ketika Jepang datang, jalan mereka mulai berbeda. Soekarno memilih jalan kerjasama, koperasi. Dia memandang Jepang sebagai peluang, sebagai jembatan menuju kemerdekaan.
Bung Karno memanfaatkan setiap celah untuk memperkuat gerakan nasional.
Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions
Di sisi lain, Sjahrir memilih jalan tidak kooperatif dengan Jepang, non-kooperatif. Dia skeptis terhadap janji-janji Jepang. Ia lebih memilih bergerak di bawah tanah, menyusun rencana dari akar rumput.