Catatan Denny JA: Retreat Para Penulis untuk Kemerdekaan
- Penulis : Maulana
- Selasa, 19 November 2024 07:58 WIB

Harriet Beecher Stowe, dalam Uncle Tom’s Cabin, membantu mengakhiri perbudakan di Amerika Serikat dengan menyentuh hati nurani sebuah bangsa.
Aleksandr Solzhenitsyn, melalui The Gulag Archipelago, mengungkap kekejaman sistem otoritarian di Rusia, menyuarakan penderitaan manusia kepada dunia.
Penulis bukan hanya pencatat sejarah. Mereka juga dapat menjadi pengubah arah sejarah. Lewat tulisan, mereka merumuskan kembali makna kebebasan dan menyampaikan pesan bahwa perjuangan untuk itu tidak pernah selesai.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Ketika 221 Penulis Bersaksi soal Pemilu dan Demokrasi di Indonesia Tahun 2024
-000-
Buku ini bunga rampai dari esai, puisi, cerpen, dan puisi esai, hasil renungan soal kemerdekaan. Semuanya menjawab satu pertanyaan: sudahkah kita merdeka?
Makna kemerdekaan dalam buku ini tidak seragam. Ada yang membahas kebebasan dalam konteks budaya, seperti dalam esai “Dimanakah Wastra Asli Tidore” oleh Annie Nugraha. Ia menggambarkan eksplorasi penulis dalam mencari kembali jejak tenun asli Tidore yang nyaris hilang.
Penulis memulai pencarian dengan wawancara warga lokal hingga menemukan alat tenun kuno. Penemuan ini menyadarkan akan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas bangsa yang merdeka.
Esai ini menekankan bahwa kehilangan tradisi dan budaya lokal seperti wastra merupakan bentuk lain dari penjajahan budaya modern.
Dalam konteks kemerdekaan, pelestarian warisan seperti tenun Tidore adalah upaya merebut kembali jati diri yang telah lama terkikis oleh globalisasi dan modernisasi.
Penulis mengajukan gagasan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya soal politik, tetapi juga soal memelihara dan merayakan akar budaya.