DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Retreat Para Penulis untuk Kemerdekaan 

image
Catatan Denny JA: Retreat Para Penulis untuk Kemerdekaan  (Istimewa)

Itu terbaca melalui kisah pengacara Atticus Finch yang membela seorang pria kulit hitam. Sang pria dituduh memperkosa seorang wanita kulit putih di Alabama pada 1930-an.

Dengan narasi yang sederhana namun kuat, Harper Lee mengekspos realitas diskriminasi rasial di Amerika Selatan.

To Kill a Mockingbird memicu diskusi nasional tentang rasisme dan ketidakadilan sosial, terutama di era gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat pada 1960-an.

Baca Juga: Catatan Denny JA: Ketika 221 Penulis Bersaksi soal Pemilu dan Demokrasi di Indonesia Tahun 2024

Novel ini digunakan di sekolah-sekolah untuk mengajarkan toleransi dan keadilan. Meski tidak secara langsung mengubah hukum, buku ini memengaruhi cara masyarakat melihat isu diskriminasi. Ia membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung perubahan sosial.

Dua karya ini menunjukkan bagaimana tulisan dapat memengaruhi hidup bernegara. Esai dapat membentuk sistem politik yang mendasar, sementara fiksi bisa mengubah cara masyarakat memandang dan memahami isu-isu sosial yang kompleks.

-000-

Retreat para penulis tidak hanya tentang menulis, tetapi juga tentang menyatukan gagasan. Diinisiasi oleh pengurus Satupena 2024 dan bekerja sama dengan Okky Madasari, acara ini membawa para penulis dari berbagai daerah ke satu tempat.

Di sana, mereka berbagi keresahan, ide, dan inspirasi. Setiap suara memiliki tempat. 

Mengapa berkumpul untuk menulis bersama juga penting?

Itu karena menulis adalah tindakan kolektif sekaligus personal. Dalam kesendirian, seorang penulis menggali kedalaman pikirannya. Tetapi dalam dialog, gagasan menemukan bentuk yang lebih utuh.

Halaman:
1
2
3
4
5
6
7
Sumber: Catatan Denny JA: Retreat Para Penulis untuk Kemerdekaan 

Berita Terkait