Catatan Denny JA: Makna Hidup di Era Algoritma
- Penulis : Maulana
- Rabu, 16 Oktober 2024 14:42 WIB

Salah satunya adalah paradoks kesejahteraan materi yang tidak sejalan dengan kedamaian batin. Teknologi memberi kenyamanan yang luar biasa. Namun ia juga membawa keterasingan yang meningkat.
Di Jepang, bahkan dibentuk posisi Menteri Kesepian untuk menangani masalah ini. Banyak orang merasa lebih terhubung dengan layar daripada sesamanya. Ini menimbulkan kehampaan yang memicu pencarian keseimbangan dan makna hidup yang hilang.
Data dari WHO menunjukkan bahwa angka bunuh diri kini lebih tinggi daripada kematian akibat terorisme, perang, dan kekerasan bersenjata.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Memahami Masyarakat Melalui Sastra
Fakta ini mencerminkan kegagalan manusia modern dalam menemukan kebahagiaan di tengah tuntutan hidup yang kian berat. Wellness hadir sebagai salah satu jalan untuk menjaga kesehatan mental dan ketenangan batin.
Ia menawarkan ruang untuk beristirahat dari laju kehidupan yang dipacu data dan prediksi.
Kemudahan komunikasi virtual sering kali menggantikan hubungan nyata. Namun kualitas hubungan yang dibangun di dunia maya ini sering kali dangkal. Banyak orang merasa ada sesuatu yang hilang, yang mendasar dalam kehidupan.
Baca Juga: 4 Lukisan Artificial Intelligence Denny JA: Dengan Kopi, Memulai Imajinasi
Wellness, melalui praktik meditasi dan refleksi, mengajak kita untuk kembali menyelami diri dan menemukan kedamaian. Inu bentuk ketenangan yang tidak bergantung pada faktor eksternal.
-000-
Fenomena ini juga terlihat dalam kebangkitan spiritualitas modern, termasuk ketertarikan pada karya Jalaluddin Rumi.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Nasionalisme di Era Algoritma
Di Amerika Serikat, karya-karya Rumi, penyair sufi dari Persia yang hidup lebih dari 800 tahun lalu, kini lebih populer daripada puisi T.S. Eliot atau Walt Whitman. (2)