Catatan Denny JA: Makna Hidup di Era Algoritma
- Penulis : Maulana
- Rabu, 16 Oktober 2024 14:42 WIB

Belanja gaya hidup wellness, termasuk kelas meditasi dan aplikasi seperti Calm, pada tahun 2024 telah mencapai angka 1,8 triliun USD. Itu sekitar 27 ribu triliun rupiah.
Data ini disampaikan oleh McKinsey Global Institute. Angka ini menunjukkan peningkatan kebutuhan manusia akan kesehatan holistik yang melibatkan sisi spiritual. (1)
Hal ini kontras dengan sepuluh tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2015. Tahun itu mencatat angka hanya sekitar 90 miliar USD.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Memahami Masyarakat Melalui Sastra
Pertumbuhan luar biasa ini menandakan semakin mendesaknya kebutuhan orang akan ketenangan batin di tengah kehidupan modern yang penuh kompleksitas.
Perubahan ini juga membawa perspektif baru tentang kesehatan. Wellness atau kesehatan holistik kini menjadi fokus utama dalam pencarian keseimbangan hidup manusia modern.
Dr. Halbert L. Dunn, yang pertama kali mendefinisikan wellness pada tahun 1961. Dalam bukunya High Level Wellness, ia menyatakan sehat bukan sekadar bebas dari penyakit. Sehat juga hidup yang bermakna dan penuh kebahagiaan.
Baca Juga: 4 Lukisan Artificial Intelligence Denny JA: Dengan Kopi, Memulai Imajinasi
Menurut Dunn, kesehatan sejati mencakup kesejahteraan batin yang dapat memberi ketenangan dan ketahanan dalam menghadapi stres.
-000-
Mengapa Manusia Modern Membutuhkan Wellness dan Spiritualitas?
Baca Juga: Puisi Denny JA: Nasionalisme di Era Algoritma
Kebutuhan akan wellness dan spiritualitas modern dapat dilihat melalui beberapa fenomena penting yang muncul di era algoritma ini.