
Catatan Denny JA: Seniman yang Tak Kembali (Istimewa)
menggilas warnanya,
menenggelamkannya dalam pusaran ideologi
yang tak pernah ia pahami.
Di Peking, kuasnya masih menari,
puisi mengalir lembut di dadanya.
Setiap goresan adalah harapan,
namun dunia tak mendengar,
politik memutar takdir dengan kejam.
Saat Bung Karno jatuh,
Rahman tersapu arus yang tak ia kenali,
Sumber: Rilis