Mengapa Mengurung Pikiranmu di Sangkar: Pengantar Buku ke -5 Lukisan dengan Artificial Intelligence Denny JA
- Penulis : Maulana
- Selasa, 02 Juli 2024 09:02 WIB

-000-
Karena Kecerdasan Buatan menjadi asisten saya dalam melukis, timbul dua pertanyaan. Apakah sah jika saya mengklaim lukisan ini sebagai karya pribadi saya? Dapatkah lukisan dengan asisten AI ini disebut seni?
Dalam era teknologi yang semakin maju, peran AI dalam berbagai aspek kehidupan manusia menjadi semakin dominan. Salah satu bidang yang mengalami transformasi signifikan adalah seni visual.
Baca Juga: Golkar Sebut Hasil Survei LSI Denny JA Jadi Rujukan di Pilkada NTB 2024
Penggunaan AI dalam proses kreatif menimbulkan perdebatan tentang apakah karya yang dihasilkan masih dapat diklaim sebagai karya pribadi sang seniman. Untuk memahami lebih jauh, kita perlu menganalisis dari sudut pandang filosofis dan empiris.
Secara filosofis, seni telah lama dipandang sebagai ekspresi pikiran dan visi seniman. Immanuel Kant dalam Critique of Judgment menyatakan seni adalah manifestasi dari gagasan dan imajinasi manusia.
Dalam konteks ini, AI hanya berfungsi sebagai alat yang membantu mengekspresikan visi tersebut. Meskipun AI berperan dalam proses produksi, ide, konsep, dan arahan artistik tetap berasal dari seniman. Dengan demikian, AI dapat dianggap sebagai perluasan dari kreativitas manusia, bukan sebagai entitas kreatif yang independen.
Lebih lanjut, filsafat fenomenologi, seperti yang diusulkan oleh Merleau-Ponty dalam "Phenomenology of Perception," menyatakan alat adalah perluasan dari tubuh dan pikiran manusia.
Melalui lensa ini, AI dapat dipandang sebagai perluasan modern dari seniman yang memperluas kemampuan mereka untuk mengekspresikan diri.
Sejarah seni juga menunjukkan inovasi alat telah menjadi bagian integral dari evolusi praktik artistik. Dari penggunaan pigmen alami oleh manusia prasejarah hingga mesin cetak dan teknologi digital, alat baru selalu diterima sebagai bagian dari perkembangan seni.
Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions
AI, dalam hal ini, hanyalah langkah selanjutnya dalam evolusi tersebut.