
Oleh Denny JA
COSMOABC.COM “Korban perang tidak selalu jatuh di medan tempur; banyak yang tenggelam dalam kengerian yang tak terucapkan. Mata yang melihat kebrutalan menyimpan luka yang membisu, namun berdarah selamanya."
Perang adalah kehancuran yang merambah jauh ke dalam jiwa manusia. Tidak hanya pada mereka yang terjebak di dalamnya, tetapi juga pada saksi-saksi mata yang merekam, melaporkan, dan mencoba mengerti.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Jokowi dan Prabowo, Hubungan Unik dalam Politik Indonesia
Dalam psikologis, ada istilah PTSD. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat perang terjadi ketika individu mengalami trauma mendalam dari peristiwa brutal, memicu gangguan psikologis jangka panjang.
Gejala termasuk kilas balik, mimpi buruk, kecemasan, dan kesulitan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi seorang jurnalis perang, pertarungan tidak hanya di medan tempur, tetapi juga di dalam diri sendiri—di antara keinginan untuk memberitahu dunia dan trauma yang terus menghantui.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Hukum Ketiga Hidup Bermakna, Passion
Lee Miller, seorang wanita yang menjalani kehidupan luar biasa, adalah bukti hidup bahwa perang menghancurkan lebih dari yang tampak di permukaan.
-000-
Luka Batin Sang Saksi Mata
Lee Miller, seorang wanita yang pernah menjadi ikon kecantikan di dunia mode. Ia menjalani transformasi hidup yang mengantarkannya menjadi salah satu saksi terpenting dari kehancuran manusia selama Perang Dunia II.