Denny JA Mengungkap 3 Fakta Tercecer Sejarah Bangsa
- Penulis : Maulana
- Senin, 19 Agustus 2024 09:06 WIB

Setiap tema dibangun melalui lima karya yang saling jalin berkelindan. Ada dramatisasi pada setiap karya, namun bahan utamanya tetap peristiwa dan fakta yang terjadi pada era kolonialisme Belanda dan Jepang di tanah air tercinta.
Pada bagian pertama tentang nestapa para perempuan yang dipaksa menjadi budak seks pemuas nafsu (Jepang: _jugun ianfu_) prajurit Negeri Matahari Terbit.
Pembaca bertemu dengan Rahma (“Jangan Panggil Aku Gadis Penghibur”), Rara (“Rara Masih Mencari Sari”), Nenek Bambang (“Mencari Makam Nenek”), Sonya (“Lima Puluh Tahun Kututup Rahasia Itu Rapat-Rapat”), dan Sakinah (“Luka Itu Dibawanya Hingga Mati”).
Baca Juga: Denny JA Hadiri Undangan Presiden Jokowi di Istana Negara, Bahas soal Ini!
Lima perempuan yang terjerumus dalam jebakan propaganda iming-iming kesempatan kerja di Kalimantan untuk kehidupan yang lebih baik, namun berakhir menjadi sasaran pelampiasan syahwat kebinatangan.
Dalam sehari, seorang _jugun ianfu_ seperti Rahma dan Sonya bisa didatangi 10 – 15 prajurit Kaisar Dewa Matahari yang melakukan rudapaksa kapan saja.
Bukan hanya para perempuan Indonesia yang menjadi korban mereka, juga para dara tak berdaya dari Filipina, Cina, Taiwan, dan Korea Selatan. Sedikitnya 200.000 perempuan menjadi vandalisme kejantanan selama penjajahan Bala Tentara Jepang di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara di era Perang Dunia II.
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Sisi Ekonomi Gerakan Lingkungan Hidup dan Green Religions
Pada 1995 Perdana Menteri Tomiichi Murayama menyampaikan permintaan maaf atas perilaku tentara mereka itu. Namun sampai dunia memasuki milenium ketiga, politisi seperti Walikota Osaka, Toru Hashimoto, masih membela laku bejat itu dengan alasan “daripada Tentara Jepang memperkosa penduduk, lebih baik disediakan rumah bordil. Itu bagian disiplin Tentara Jepang.” (hal. 22). Maka dibuat rasio 70: 1 atau untuk setiap 70 orang prajurit disiapkan seorang _jugun ianfu_ pelepas syahwat.
Sebagai penyair puisi esai, Denny J.A. menggambarkan fragmen kedukaan personal para _jugun ianfu_ dengan pilihan frasa yang membuat sesak napas pembaca. Misalnya pada kalimat berikut ini:
Sebelum Rahma mati di tahun 2007/Rahma sudah menguburkan dirinya sendiri (“Jangan Panggil Aku Gadis Penghibur’, hal. 4).
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Tanah Airku dalam Lagu, Puisi, dan Lukisan
Atau kalimat ini: "Luka batin Sakinah karena dipaksa menjadi gadis penghibur tetap menganga/Namun ternyata ada luka yang lebih perih/Hingga suaminya wafat Sakinah tak berani memberi tahu/bahwa dirinya dulu pernah dipaksa menjadi gadis penghibur tentara Jepang". ("Luka Itu Dibawanya Hingga Mati”, hal. 20).