DECEMBER 9, 2022
International

Rusia Tuding Amerika Serikat dan Barat Ganggu Stabilitas Ekonomi hingga Tatanan Global

image
Presiden Rusia, Vladimir Putin (Foto: ANTARA)

COSMOABC.COM - Rusia menuding Amerika Serikat dan negara-negara Barat mengganggu stabilitas ekonomi hingga tatanan global. Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Selasa 16 Juli 2024.

Menurutnya, fondasi tatanan hukum internasional, stabilitas strategis, dan sistem politik global yang berpusat di PBB sedang diuji.

"Tidak mungkin menyelesaikan konflik yang terus bertambah tanpa mengatasi akar permasalahannya dan memulihkan kepercayaan terhadap kemampuan kita untuk bersatu demi kebaikan bersama dan keadilan bagi semua," kata Lavrov dalam debat di Dewan Keamanan PBB tentang parameter tatanan dunia yang adil.

Baca Juga: Rusia Nilai Rencana Amerika Serikat Letakkan Rudal di Jerman Bisa Picu Perang Dingin 

Lavrov menuduh AS telah lama "menyatakan keistimewaannya sendiri.

"Hal ini juga berlaku pada sikap Washington terhadap sekutu-sekutunya, dengan menuntut mereka untuk patuh tanpa syarat, bahkan hingga merugikan kepentingan nasional mereka".

Diplomat Rusia itu mengatakan bahwa Barat "secara agresif mengacak-acak" sistem global yang awalnya dibangun berdasarkan modalnya untuk membendung Rusia, China dan negara-negara lain.

Baca Juga: Gawat! China dan Rusia Mulai Latihan Militer Bareng, Persiapan Perang?

Kebijakan independen negara-negara tersebut dianggap sebagai tantangan terhadap hegemoni Barat, lanjutnya.

"Washington telah melakukan segalanya untuk meledakkannya, termasuk secara harfiah, dengan mengatur serangan teroris terhadap jaringan pipa gas Nord Stream, fondasi kerja sama energi yang saling menguntungkan antara Rusia, Jerman, dan Eropa," tambahnya.

Menteri luar negeri itu juga menuduh AS menekan Barat dan memperluas perang perdagangan dan ekonominya terhadap pihak-pihak yang dianggapnya tidak diinginkan.

Baca Juga: Korea Utara Kritik Deklarasi NATO yang Kecam Ekspor Senjatanya ke Rusia

Dia mengeklaim hal itu "memicu kampanye yang belum pernah terjadi sebelumnya berupa tindakan sepihak dan koersif yang pertama-tama menghantam Eropa dan menyebabkan fragmentasi ekonomi dunia."

Halaman:
1
2
Sumber: Anadolu/ANTARA

Berita Terkait