Catatan Denny JA: Renungan Sumpah Pemuda, Warna Nasionalisme di Era Algoritma
- Penulis : Maulana
- Senin, 28 Oktober 2024 12:28 WIB

-000-
Sejak lahirnya, nasionalisme selalu berkembang. Pada abad ke-18, ia lahir di Eropa sebagai respons terhadap penjajahan. Di Indonesia, nasionalisme adalah perlawanan.
Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara berjuang demi kemerdekaan. Mereka menciptakan identitas kebangsaan yang kokoh.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Hukum Keempat Hidup Bermakna, Small Winning
Namun, globalisasi membawa perubahan. Nasionalisme mulai terbuka pada pengaruh asing. Menjadi bagian bangsa bukan berarti menolak dunia luar.
Nasionalisme berkembang menjadi semangat yang menyerap nilai-nilai baru. Identitas kebangsaan Indonesia menjadi campuran, tradisi dan modernitas.
Kini, di era algoritma, nasionalisme mengalami babak baru. Identitas kebangsaan tidak lagi tercipta melalui sejarah atau pendidikan. Ia terbentuk oleh layar digital dan konten.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Hukum Kelima Hidup Bermakna, Spiritualitas dan Wellness
Generasi baru membangun kebangsaan mereka dari realitas yang dibentuk algoritma. Nasionalisme menjadi lebih fleksibel, tetapi juga lebih rentan.
-000-
Menjaga Nasionalisme di Era Algoritma
Menghadapi era algoritma, setiap individu harus siap dan disiapkan. Jangan sampai terjadi Algoritma menjadi tuan dan individu budaknya.