Catatan Denny JA: Jokowi dan Prabowo, Hubungan Unik dalam Politik Indonesia
- Penulis : Maulana
- Senin, 21 Oktober 2024 18:20 WIB

Salah satu contoh kekerasan yang mencuat dari konflik antara pendukung Jokowi dan Prabowo terjadi pada Pilpres 2019.
Saat itu, setelah pengumuman hasil Pemilihan Presiden yang memenangkan Jokowi, terjadi kerusuhan di Jakarta pada tanggal 21-22 Mei 2019.
Kerusuhan ini dipicu oleh ketidakpuasan sebagian pendukung Prabowo yang menuduh adanya kecurangan dalam proses pemilihan.
Baca Juga: Prabowo Panggil Calon Menterinya ke Kertanegara
Protes ini berujung pada bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di berbagai titik di Jakarta, khususnya di kawasan Tanah Abang dan Slipi.
Namun, di luar dugaan banyak pihak, sesuatu yang tak terbayangkan terjadi setelah Pilpres 2019. Jokowi, sebagai pemenang, justru mengundang Prabowo untuk masuk ke dalam kabinetnya.
Pada Oktober 2019, Prabowo dilantik sebagai Menteri Pertahanan. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena baru beberapa bulan sebelumnya, Prabowo merupakan lawan politik yang keras menantang kebijakan-kebijakan Jokowi.
Baca Juga: PP Muhammadiyah Apresiasi Pidato Perdana Presiden Prabowo
Namun, persaingan keras tersebut berubah menjadi kolaborasi yang solid di dalam pemerintahan.
-000-
Keputusan Jokowi mengajak Prabowo untuk bekerja sama dalam pemerintahan adalah contoh nyata dari konsep coopetition—gabungan dari competition dan cooperation.
Baca Juga: Rupiah Menguat Setelah Pelantikan Presiden Prabowo Subianto
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Raymond Noorda, CEO Novell, pada 1980-an dalam konteks bisnis.