China Tekan Israel untuk Penuhi Kewajiban Kemanusiaan di Gaza
- Penulis : Maulana
- Kamis, 04 Juli 2024 13:00 WIB

COSMOABC.COM - China kembali menekan Israel untuk menenuhi kewajiban kemanusiaan di Gaza, Palestina, berdasarkan hukum kemanusiaan internasional.
China juga mendesak Israel agar mematuhi seruan masyarakat internasional untuk menjamin masuknya pasokan kemanusiaan dengan cepat dan aman ke Gaza.
Desakan itu disampaikan oleh perwakilan tetap China untuk PBB, Fu Cong, dalam pidatonya saat briefing PBB perihal situasi di Timur Tengah termasuk masalah Palestina.
Baca Juga: China Minta NATO Hentikan Narasi Palsu Ancaman Nuklir
Ia menyoroti parahnya krisis kemanusiaan di Gaza yang diperburuk oleh kelangkaan pasokan esensial yang ekstrem dan kondisi kesehatan yang memprihatinkan.
Dia menyatakan bahwa "jutaan warga sedang berjuang melawan kelaparan, penyakit, rasa sakit, dan keputusasaan," sembari menguraikan situasi itu sebagai bencana kemanusiaan yang disebabkan oleh manusia dan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Fu memaparkan bahwa Gaza telah diblokade selama sembilan bulan, dengan lebih dari 2 juta warga hidup dalam sebuah "penjara terbuka" tanpa akses yang memadai untuk mendapatkan air, listrik, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Baca Juga: China Berhasil Luncurkan Satelit Zhongxing-3A ke Luar Angkasa
Dia mengkritik penutupan perlintasan Rafah akibat operasi militer Israel, yang menyebabkan ribuan truk bermuatan pasokan kemanusiaan mengantre panjang.
"Titik perlintasan yang ada saat ini masih jauh dari kata cukup untuk memenuhi permintaan bantuan kemanusiaan," ujar Fu, seraya menekankan bahwa rute transportasi darat menjadi kunci untuk memperluas akses kemanusiaan.
Fu juga membahas tentang terhambatnya pasokan kemanusiaan dan berbagai tantangan yang dihadapi oleh para pekerja kemanusiaan, yang menemui kesulitan dan tudingan yang tidak masuk akal.
Baca Juga: Pebulutangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Dunia saat Tampil di BAJC 2024 Indonesia
Dia mengecam serangan berulang terhadap sejumlah fasilitas lembaga kemanusiaan, dan menyatakan bahwa lebih dari 200 pekerja kemanusiaan tewas akibat konflik tersebut, sembari menyebut ini sebagai "hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dan mengejutkan."