Dunia Anak dalam Lukisan Artificial Intelligence Denny JA
- Penulis : Maulana
- Minggu, 30 Juni 2024 10:08 WIB

Tema pemilihan presiden dan covid 19 di lantai dua antara lain misalnya, bagaimana Denny JA merekonstruksi saat Gibran hadir dengankalimat imajinatif “ Tenang Pak Prabowo, saya sudah hadir di sini.”
Peristiwa ini sungguh sebuah satir yang getir. Kayaknya, Denny JA ingin memberi pesan soal tatakrama dalam peristiwa itu.
Tahun 2019 hingga 2021 merupakan tahun-tahun buruk bagi dunia terutama Indonesia. Betapa tidak, pandemi Covid 19 merupakan “maha duka” bagi keluarga Indonesia dengan munculnya monster berupa virus yang divisualkan oleh Denny JA sebagai “the birth of A Monster” entitas pencabut nyawa.
Baca Juga: Denny JA Berbincang Soal Universalisasi Pesan Agama di Forum Esoterika Acara Waisak Agama Buddha
Beratus ribu nyawa melayang. Namun, peristiwa itu berhenti ketika secara resmi Indonesia melalui WHO menyatakan bebas virus covid 19, yang sangat impresif dilukiskandengan tangan-tangan menggapai masker putih.
Lukisan yang berjudul “Welcome 2023 A Pandemi Free Year” itu, seakan mengingatkan orang-orang masih terikat dengan masker meski pemerintah menyatakan bebas covid.
Peristiwa demi persitiwa dan suasana demi suasana dihadirkan Denny JA dalam wujud lukisan AI. Selain tema-tema tempo dulu dan masa depan, tema tokoh-tokoh dan revisiting, adalah tema anak-anak di Gaza (Lantai enam) merupakan peristiwa yang menyita perhatian Denny JA olehkarena anak-anak di Gaza (Palestina) banyak terbunuh lantaran seragan bom dan meriam oleh tentara Israel.
Potret anak korban serangan brutal yang dipamerkan hampir semua terungkap yang tak lain sebuah realitas sosial dan kemanusiaan dalam kota Gaza yang porak poranda. Anak-anak kehilangan ibu bapaknya, juga keluarga.
Pada gilirannya, nasib merekate-terombang-ambing tanpa perlindungan. Hal itu digambarkan Denny JA , bahwa anak-anak Gaza begitu suram memandang masa depannya. Anak-anak Gaza yang yatim piatu menjadi tidak berdaya.
Sebagaimana diungkapkan oleh Denny JA dalam satu karya lukisan seorang anak lelaki terduduk setengah berdiri mengenakan dua sayap sebagai simbol kebebasan memandang kota yang hancur dengan memakai teknik Artificial Intelligence (AI). Konstruksi ruang sebagai media pada pameran Denny JA ini tetap konvensional menggunakan kanvas namun diberi bingkai dari bahan metal berwarna perak.
Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions
Dalam perkembangan seni rupa mutakhir Indonesia, kehadiran Denny sebagai perupa yang banyak melahirkan karya-karya berupa Intelligence (AI) setidaknya memberikan kontribusi sekaligus menyuguhkan warna tersendiri pada sisi lain perjalanan kesenirupaan Indonesia.