DECEMBER 9, 2022
Kolom

Catatan Denny JA: Memulai Tradisi Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain secara Sosial 

image
Catatan Denny JA: Memulai Tradisi Ikut Merayakan Hari Raya Agama Lain secara Sosial (Istimewa)

Empati bukanlah sekadar teori; ia terbangun melalui pengalaman langsung. Saat kita ikut berbagi kebahagiaan atau refleksi dalam hari raya agama lain, kita melatih diri untuk melihat dunia dari sudut pandang mereka.

2. Menegaskan Kesatuan dalam Keberagaman

Di tengah dunia yang sering kali terpecah oleh isu agama, tradisi ini mengingatkan kita bahwa keberagaman bukanlah ancaman. 

Baca Juga: Catatan Denny JA: Dana Abadi untuk Festival Tahunan Puisi Esai 

Sebaliknya, ia adalah kekayaan. Melalui perayaan sosial lintas agama, kita menegaskan bahwa identitas keagamaan kita tidak perlu menjadi alasan untuk memisahkan diri dari komunitas yang lebih besar.

3. Merayakan Nilai-Nilai Universal

Setiap agama membawa pesan kebaikan, kasih sayang, dan keadilan. Merayakan hari raya agama lain secara sosial adalah cara untuk menghormati nilai-nilai ini tanpa terikat pada ritus keagamaan tertentu. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap esensi universal yang dimiliki semua agama.

Tentu saja, ada kritik terhadap gagasan ini. Beberapa pihak mungkin berargumen bahwa ikut merayakan hari raya agama lain dapat dianggap sebagai pengaburan identitas keagamaan. 

Namun, penting untuk dipahami bahwa social gathering pada hari raya agama lain tidak berarti kita mengadopsi ritus keagamaan tersebut. 

Merayakan Natal tidak berarti kita menjadi Kristen, sebagaimana berbuka puasa di Ramadan tidak menjadikan kita Muslim.

Kebersamaan ini justru melampaui perbedaan ritual, fokus pada nilai-nilai kemanusiaan yang lebih besar. Ini adalah cara untuk saling menghormati tanpa kehilangan identitas pribadi.

Halaman:
1
2
3
4
5
6
7

Berita Terkait